Perjalanan filosof
Kelahiran
Filsafat Ilmu diawali dari Sejarah Filsafat Yunani yang dimulai sekitar abad
ke-6 SM. Zaman Filsafat Yunani sering disebut juga zaman peralihan dari mitos ke logos yaitu peralihan dari hal-hal kepercayaan Ghaib menjadi kepercayaan
menurut rasio (pemikiran). Filsafat
Yunani ini melahirkan suatu Grant Ideas
of Philoshopy (Pemikiran Terbesar Sepanjang Sejarah Filsafat) yang terbagi menjadi 2, yaitu :
1.
Filsafat
beraliran Tetap (Tesis)
Tokoh-tokoh yang berpengaruh pada
aliran ini meliputi :
a) Parmenides
Parmenides
lahir pada tahun 540 SM dan meninggal pada tahun 470 SM. Ia berasal dari kota Elea,
Italia Selatan. Ia berasal dari keluarga
yang kaya dan terhormat di Elea. Inti utama dari "Jalan Kebenaran"
adalah keyakinan bahwa "hanya 'yang ada' itu ada". Parmenides tidak
mendefinisikan apa yang dimaksud "yang ada", namun menyebutkan
sifat-sifatnya. Menurut Parmenides, "yang ada" itu bersifat meliputi
segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah, dan tidak terhancurkan.Selain
itu, "yang ada" itu juga tidak tergoyahkan dan tidak dapat disangkal.
Menurut
Parmenides, "yang ada" adalah kebenaran yang tidak mungkin disangkal.Bila
ada yang menyangkalnya, maka ia akan jatuh pada kontradiksi. Hal itu dapat
dijelaskan melalui pengandaian yang diberikan oleh Parmenides.Pertama, orang
dapat mengatakan bahwa "yang ada" itu tidak ada. Kedua, orang dapat mengatakan
bahwa "yang ada" dan "yang tidak ada" itu bersama-sama ada.Kedua
pengandaian ini mustahil. Pengandaian pertama mustahil, sebab "yang tidak
ada" tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibicarakan. "Yang tidak
ada" tidak dapat dipikirkan dan dibicarakan.Pengandaian kedua merupakan
pandangan dari Herakleitos.Pengandaian ini juga mustahil, sebab pengandaian
kedua menerima pengandaian pertama, bahwa "yang tidak ada" itu ada,
padahal pengandaian pertama terbukti mustahil.Dengan demikian, kesimpulannya
adalah "Yang tidak ada" itu tidak ada, sehingga hanya "yang
ada" yang dapat dikatakan ada.
Setelah
berargumentasi mengenai "yang ada" sebagai kebenaran, Parmenides juga
menyatakan konsekuensi-konsekuensinya:
1.
"yang ada" adalah satu dan tak
terbagi, sedangkan pluralitas tidak mungkin. Hal ini dikarenakan tidak ada
sesuatu pun yang dapat memisahkan "yang ada"
2.
"yang ada" tidak dijadikan dan
tidak dapat dimusnahkan. Dengan kata lain, "yang ada" bersifat kekal
dan tak terubahkan. Hal itu merupakan konsekuensi logis, sebab bila "yang
ada" dapat berubah, maka "yang ada" dapat menjadi tidak ada atau
"yang tidak ada" dapat menjadi ada
3.
harus dikatakan pula bahwa "yang
ada" itu sempurna, seperti sebuah bola yang jaraknya dari pusat ke
permukaan semuanya sama Menurut Parmenides, "yang ada" itu bulat
sehingga mengisi semua tempat
4.
karena "yang ada" mengisi
semua tempat, maka disimpulkan bahwa tidak ada ruang kosong. Jika ada ruang
kosong, artinya menerima bahwa di luar "yang ada" masih ada sesuatu
yang lain. Konsekuensi lainnya adalah gerak menjadi tidak mungkin sebab bila
benda bergerak, sebab bila benda bergerak artinya benda menduduki tempat yang
tadinya kosong.
b)
Plato
Plato merupakan
filosof yang idealis. Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya
mengenai idea. Menurut Plato idea tidak
diciptakan oleh pemikiran manusia Idea tidak tergantung pada pemikiran
manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan
perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah Idea sudah ada dan
berdiri sendiri di luar pemikiran kita Idea-idea ini saling berkaitan satu
dengan yang lainnya.Dunia indrawi adalah dunia yang mencakup benda-benda
jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita Dunia indrawi
ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Dunia
idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita] Dalam
dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat
diubah.Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”
c)
Rene
Descartes
Rene Descartes
(1596-1650 M) mempelopori Aliran
rasionalisme
Descartes menerima 3
realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu (1)
realitas pikiran (res cogitan), (2)
realitas perluasan (res extensa, "extention")
atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab
sempurna dari kedua realitas itu).
Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak
dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari
Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga.
Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas
pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang
hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang,
dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat,
bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena
dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah
komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan).
2.
Filsafat
beraliran Berubah (Antitesis)
Tokoh-tokoh Filsafat pada aliran ini meliputi :
a)
Herakleitos
Pemikiran Herakleitos yang
paling terkenal adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta. Menurut
Herakleitos, tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau
permanen. Tidak ada sesuatu yang betul-betul ada, semuanya berada di
dalam proses menjadi. Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai
uden menei yang berarti, "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun
yang tinggal tetap". Pendapat Heraklietos ini bertentangan dengan
Parmenides karena perubahan yang tidak ada henti-hentinya itu dibayangkan
Herakleitos dengan dua cara :
ü Pertama,
seluruh kenyataan adalah seperti aliran sungai yang mengalir. "Engkau
tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama," demikian kata
Herakleitos. Maksudnya di sini, air sungai selalu bergerak sehingga tidak
pernah seseorang turun di air sungai yang sama dengan yang sebelumnya.
ü Kedua, ia
menggambarkan seluruh kenyataan dengan api. Maksud api di sini lain dengan
konsep mazhab Miletos yang
menjadikan air atau udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu. Bagi
Herakleitos, api bukanlah zat yang dapat menerangkan perubahan-perubahan segala
sesuatu, melainkan melambangkan gerak perubahan itu sendiri. Api senantiasa
mengubah apa saja yang dibakarnya menjadi abu dan asap, namun api tetaplah api
yang sama karena itu, api cocok untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan.
Heraklietos juga penganut Metafisika, yaitu cabang filsafat
yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika
adalah studi keberadaan atau realitas.
Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari
suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?
dan lain sebagainya. Cabang utama metafisika adalah Ontologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang
hakekat benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Ahli
metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai
dunia, termasuk keberadaan, kebendaan, sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat, dan
kemungkinan.
b)
Aristoteles
Berlawanan
dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda,
Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada
(eksis) Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda
bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak
teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada
penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba
pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos,
yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.]Logika Aristoteles
adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive
reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari
setiap pelajaran tentang logika formal Meskipun demikian, dalam penelitian
ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive
thinking
Hal lain
dalam kerangka berpikir yang menjadi sumbangan penting Aristoteles adalah
silogisme yang dapat digunakan dalam menarik kesimpulan yang baru yang tepat
dari dua kebenaran yang telah adaMisalkan ada dua pernyataan (premis)
·
Setiap manusia pasti akan mati (premis mayor).
·
Sokrates adalah manusia (premis minor)
·
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sokrates pasti
akan mati
c) David Hume
Aliran
empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang
memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah
(yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi
manusia). Oleh karena itu pengenalaninderawi merupakan bentuk pengenalan yang
paling jelas dan sempurna.
Dua
hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya
kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil
penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti
itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman
itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut
kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas,
diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan
yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain hanyalah "a bundle or
collection of perceptions (= kesadaran tertentu)".
Selain
filsafat yang beraliran tesis dan anti tesis ada juga yang bersifat sintesis
dengan tokohnya Imanuel Kant. Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan
suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing
pendekatan benar separuh, dan salah separuh.
Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita,
namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita
memandang dunia sekitar kita. Ada
kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia
tentang dunia. Kant setuju dengan Hume
bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu
sendiri" ("das Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti
tampak "bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang
memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah
ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan
indera kita. Ruang dan waktu adalah cara
pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah
dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang
tak terpatahkan. Ini bentuk
pengetahuan.
Filsafat Modern
Tokohnya
adalah Augusta Comte. August Comte
adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Kaum positivis percaya
bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian
empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan.
Comte
menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie
Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis
dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya
itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam
hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan
organis antara gejala-gejala, sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala.
Bagi Comte untuk
menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya
tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
1. Metode ini
diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini
diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini
berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini
berusaha ke arah kecermatan.
Metode
positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan,
eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam
ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu
untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkambangan gagasan-gagasan.
Menurut Comte ,
perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 zaman, yaitu; zaman
teologis, zaman metafisis dan zaman ilmiah atau zaman positif.
1)
Pada zaman teologis , manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam
terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala
tersebut. Kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak
seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang
lebih tinggi daripada makhluk inisani biasa. Pada tahapan ini, dimana studi
kasusnya pada masyarakat primitif yang masih hidupnya menjadi obyek bagi
alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau
dapat dikatakan belum menjadi subyek. Animisme merupakan keyakinan awal yang
membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia
menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang
mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya dikeseharian. Contoh yang
lebih konkritnya, yaitu dewa Thor saat membenturkan godamnyalah yang membuat
guntur terlihat atau dewi Sri adalah dewi kesuburan yang menetap ditiap sawah.
2)
Zaman metafisis atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte karena
tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya.
Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala
alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik.
3)
Zaman positif, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan
perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi
berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara
empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya,
adalah bilamana kita memperhatikan kuburan manusia yang sudah mati pada malam
hari selalu mengeluarkan asap (kabut), dan ini karena adanya perpaduan antara
hawa dingin malam hari dengan nitrogen dari kandungan tanah dan serangga yang
melakukan aktivitas kimiawi menguraikan sulfur pada tulang belulang manusia,
akhirnya menghasilkan panas lalu mengeluarkan asap.
PASA
JATI
12709251004
Refleksi
kuliah tanggal 27 September 2012
Pertanyaan
: Bagaimana menggapai keseimbangan hidup ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar